Jumat, 05 Agustus 2011

Siluet - (5th Novel)


penerbit : DIVA Press



Karya Terakhir Duo "Thee & Rien"

Sneak Peek

(Setelah editing... cover & cerita bisa saja tidak sesuai seluruhnya dengan preview di blog ini)

Kamis, 05 Agustus 2010

Skenario - (4th Novel)


penerbit : HSM Pustaka

Website Novel Skenario
Keluarga Sunyoto dan keluarga Kusumaatmodjo sudah menjalin persahabatan ketika masih muda dahulu. Persahabatan yang erat itu membawa mereka ke sebuah rencana untuk menjodohkan kedua anak mereka, agar jalinan persahabatan ini dapat dipererat dalam sebuah ikatan keluarga.
Namun, pasangan suami istri Johan dan Heni Sunyoto maupun pasangan suami istri Kusumaatmodjo tidak akan menjodohkan anak-anak mereka seperti layaknya sebuah perjodohan. Mereka akan melakukan perjodohan itu tanpa diketahui kedua anaknya, Mona dan Ario. Perjodohan yang terkesan natural, dengan perasaan cinta yang berproses hingga ke jenjang pernikahan.
Maka dimulailah rencana itu. Sejak Mona dan Ario memasuki bangku SMA, mereka berdua sudah dipertemukan. Berbagai cara dilakukan oleh Kusumaatmodjo dan Sunyoto untuk mendekatkan mereka, dengan dimasukkan ke kelas yang sama salah satunya. Tapi rupanya rencana tidak berjalan sesuai dengan dugaan mereka, Mona dan Ario bukannya dekat... malah menjadi musuh satu sama lain. Mereka berdua terkenal sering melakukan perang di sekolahnya hingga sampai dipanggil oleh pihak sekolah.
Tapi Kusumaatmodjo dan Sunyoto tidak putus asa, mereka memakai banyak cara, termasuk memperalat teman-teman Ario, ataupun memanggil seseorang untuk memata-matai Mona dan Ario.
Bagaimana lika-liku yang dihadapi oleh Kusumaatmodjo dan Sunyoto dalam mempersatukan Ario dan Mona, bagaimana kisah cinta antara Mona dan Ario dalam menjalani kehidupan mereka yang penuh skenario itu tanpa sedikitpun mereka ketahui? Lalu, apakah rencana ini akan tercapai?

Sabtu, 12 Desember 2009

The Calling - (3rd Novel)


penerbit : FOU Media Publisher

website The Calling

Sinopsis :

Sasti

Kehidupan Sasti Haryo Setyanegara mulai berubah ketika ia berhasil mendapatkan beasiswa master psikologi di Manchester Metropolitan University, kota Manchester, Inggris. Di sana Sasti mendapatkan segala bentuk cinta dari orang-orang yang baru dikenalnya. Cinta yang begitu indah sebagai sahabat, kekasih, dan saudara yang selama hidupnya belum pernah ia dapatkan.

Wajah Andy yang basah terlihat begitu tampan di mata Sasti. Terutama ketika cahaya lampu taman sedikit menyentuh raut wajahnya, hidungnya yang mancung sempurna dan bibir merah yang mungil tipis itu mengguncang jiwa Sasti yang semula beku akan cinta kaum pria. Andy benar-benar mirip dengan Andy Williams ketika muda. Matanya yang cokelat, senyumnya yang manis, dan Sasti hampir tidak percaya bahwa hangat matanya saat ini hanyalah untuk dirinya. Pandangan hangat Andy menyelusupi sanubari Sasti, membuat bunga yang layu itu berkembang indah terkena cahaya dan kehangatannya. 

Namun kebahagiaannya itu rupanya tidak berlangsung lama, ketika menjelang semester akhir menjadi mahasiswa di sana, Sasti mengalami kejadiankejadian yang tanpa diketahuinya ternyata akan mengubah jalan hidupnya, dan mengubah masa depannya. 



Mata Sasti terbelalak, mulut yang tertutup saputangan itu mengeluarkan erangan perlahan, tangan dan kaki yang terikat tali itu meronta-ronta minta dilepaskan. Seseorang yang berada di balik topeng kain hitam itu dan yang sejak awal menyorongkan moncong pistolnya ke kepala Sasti adalah orang yang teramat dikenalnya. Orang yang selama ini dianggap sebagai sahabatnya.

Yoishi bangkit dan membuka lemari yang ada di bawah televisinya, dan Sasti melihat hanya ada satu benda yang terdapat di lemari itu. Hanya ada sebuah samurai panjang dengan pegangan berwarna cokelat kehitaman yang terbuat dari pohon kayu ek. “Ini samurai ayahku, alat ayahku untuk melakukan hara kiri” ujar Yo, memegang handlenya dan mulai membuka sarung samurai itu.


Elana

Elana May Krisnajaya tidak mengetahui dibalik latar belakang kedua orang tuanya yang sangat mencintainya itu, tersimpan rahasia masa lalu yang tak diketahui oleh siapapun. Rahasia terbesar keluarga Krisnajaya yang tersimpan rapi selama bertahun-tahun dan mulai terbongkar ketika suami istri Krisnajaya meninggal dalam sebuah kecelakaan naas. Satu per satu petunjuk ditemukannya, mulai dari kelemahan surat wasiat orang tuanya dan pembicaraan antar keluarga Krisnajaya di masa lalu yang misterius.

“Atas dasar apa dia menggugat kita?” Devi menggeleng marah. “Kamu sudah baca sendiri!” Ajis nyaris berteriak kesal. “Penyiksaan fisik dan mental. Dia meminta kita untuk angkat kaki dari Krisna Cottage ini. Dan kalau kamu lupa, dia berhak melakukan itu, Ma! Dia pewaris sah cottage ini! Ma, itu bukan tuduhan main-main!” ucap Ajis gemas. “Lihat saja,” geleng Devi keras kepala, “dia bisa bilang begitu, dan aku bisa berkata sebaliknya. Kalau sudah begitu, maka ucapannya akan berbanding melawan ucapan kita di pengadilan nanti, Pa. Kita lihat saja, ucapan yang mana yang akan dipercayai oleh hukum!”.
“Bagaimana dengan saksi mata?”
“Tidak bakal ada pegawai tempat ini yang berani bersaksi melawan kita!” balas Devi yakin. Ajis pun yakin tentang itu. Tapi tetap saja, hatinya tidak tenang. Hati kecilnya merasa, ini ialah suatu awal. Bukan awal yang baik! Ini ialah awal kejatuhan mereka. “Seperti pernah aku bilang,” ucap Devi pelan, ada kebencian yang begitu kental disana, “kalau anak itu macam-macam, akan aku buka semua kartu yang ada, Pa!”
“Jangan!” Ajis menggeleng lemah. “Kamu ingat mandat dari mendiang kakakmu, bukan?”
“Kalau begitu,” Devi berbalik cepat, “kita harus datang ke Jakarta. Aku akan menyuruh Mona mencari tiket penerbangan pertama Garuda. Dan aku akan meminta dia meng-cancel semua meeting penting untuk 3 hari kedepan.” Ajis menatap tanpa kata. Otaknya berputar keras.

 
Elana mencari berbagai petunjuk yang mengarah kepada misteri keluarganya. Dan, satu per satu petunjuk itu ditemukannya... Malam itu, di sebuah hotspot di lounge hotel, Elana menyambungkan koneksi wifi tersebut ke laptop yang selalu dibawanya. Ia mengklik icon internet, dan masuk ke situs search engine terbesar di dunia. www.google.co.id. Perlahan, jemari Elana mengetik sebuah nama. Sasti Haryo
Setyanegara.


***
Apa kaitan antara Sasti Haryo Setyanegara dengan Elana May Krisnajaya,
mengapa Elana begitu ingin mencari segala hal mengenai Sasti, orang yang sama
sekali tak pernah dikenalnya selama hidupnya?

Rabu, 18 Maret 2009

MaRooN (Luka Sang Penulis) - (2nd Novel)



penerbit : Lintas

website MaRooN (Luka Sang Penulis)


Sinopsis :

Sebuah roman, yang menceritakan tentang perjuangan hidup seorang penulis homoseksual untuk kembali kepada kodratnya sebagai seorang laki-laki sejati, disaat seorang wanita dengan begitu indahnya datang menyapa kehidupannya yang begitu ‘gay’ dengan cinta. Disaat sang penulis laki-laki itu, masih terikat sebagai pasangan sah dari seorang desainer ternama Inggris, yang juga seorang gay.

Nafasku hanya sebatas kertas dan pena. Menulis imaji yang terus membayangiku hingga gila. Mengungkapkan hal yang tidak normal bagi khalayak. Mengaburkan kenyataan dalam mimpi yang bergejolak dan berbuih. Mengeluarkan ide layaknya letupan lahar kawah sebuah gunung merapi. Mengalirinya lewat sejuta kalimat bagai air sungai kotor yang rindu muara untuk bernaung. Bagai nada yang bergaung namun tak kunjung sampai di telinga. Hanya lewat batin.

Hujan - (1st Novel)



penerbit : Lintas


website HUJAN


Sinopsis :

Sebuah Fiksi. Novel Thriller Fiction dengan kontroversi sosial politik, pertama di Indonesia. Sarat dengan konflik dan permasalahan tak terduga. Juga hal-hal yang marak terjadi di masyarakat. Mengetengahkan problema kontroversial, seperti hubungan homoseksual atau sikap anti-sosial dan non aktual yang kian menjamur saat ini. Dihadirkan pula argumen anti politik yang menghadirkan unsur PKI dan orde lama. Dikemas dalam fiksi yang berani hingga membuat kerasnya alur cerita maju-mundur yang ditampilkan di dalamnya.


Gadis itu menatap deretan kertas, potongan-potongan koran, lembaran foto-foto tua yang sudah menguning dan koran pagi.“Apalagi yang mau kulakukan sekarang? Satu sudah jatuh, tinggal lima lagi. Dan berikutnya… tunggu Ayah, dendam ini pasti terbalas.”